Ada indikasi Triumph akan keluar dari Medan perang

Tags

Ada indikasi kuat Trump saat ini ingin keluar dari Medan perang, dan mungkin akan diumumkan dalam waktu dekat. Kondisi ini diperkuat dengan langkah AS dan Israel yang selama dua hari ini melakukan serangan besar-besaran ke Iran dengan tujuan mencapai beberapa tujuan penting sebelum memutuskan segera keluar dari perang ini. AS dan Israel beberapa hari ini melakukan serangan ke sistem sistem pertahanan Iran, terutama Isfahan. Tapi langkah ini tidak berpengaruh banyak di lapangan. Ini hanya langkah akhir rencana Trump yang ingin keluar dari perang. Tapi tanggapan Iran bukan melemah, justru semakin kuat. semakin Trump ingin keluar dari perang, semakin kuat serangan Iran ke Israel dan berbagai target AS di seluruh kawasan teluk. Trump saat ini telah meminta wakil presiden JD Vence untuk membuka komunikasi dengan Iran, tapi kanal di Iran tidak terbuka, dan komunikasi tidak direspon Iran. Beberapa pesan WhatsApp yang dikirim oleh utusan khusus Trump Steve Witkoff juga tidak digubris oleh Menlu Iran Abbas Araghchi. Yang sangat ingin keluar dari perang ini adalah Trump dengan pertimbangan eskalasi perang saat ini yang terus memanas dan menekan ekonomi global secara pelan tapi pasti. Trump pada dasarnya sudah tidak kuat dengan tekanan ini. Tapi beberapa penasehat Trump yang disampingnya yang merupakan agen agen Israel terus memberikan info yang salah bahwa Iran melemah dan perang harus berlanjut. Iran tidak peduli dengan retorika dan kegaduhan di gedung putih atau di Tel Aviv, Iran terus fokus memukul Israel dan AS dengan keras di lapangan. Kemarin Iran meluncurkan serangan besar ke Israel dan menyerang berbagai sasaran, HZB juga meningkatkan serangan dengan meluncurkan pertama kalinya rudal Scud tipe D dengan hulu ledak 1 ton. Iran juga merudal perusahaan perusahaan yang terafiliasi dengan AS dan Israel di kawasan, merudal tempat persembunyian tentara AS, dan merudal pusat pusat data center partner AS di seluruh timur tengah. Pesan yang ingin dikirim Iran sangat jelas, tidak ada tema negosiasi dan perang akan terus berlanjut sampai AS dan Israel diberikan pelajaran bersejarah, seperti yang sering dikatakan oleh penasehat pemimpin tertinggi Iran, Jenderal Mohsen Rezaei. Trump frustasi karena semua capaian yang dia umumkan dan koar koar di media dan di depan wartawan bahwa AS menang perang sama sekali tidak sesuai fakta. Nyatanya pukulan Iran semakin keras dan Israel terus mengalami serangan balistik tanpa henti. Hanya dua jam setelah Netanyahu pidato kemarin yang mengatakan bahwa Israel sekarang lebih kuat dan Iran telah melemah, balistik Iran sudah menurun. Iran kembali menghujani Tel Aviv dan kota kota lain di Israel dengan puluhan balistik dan Hipersonik. Mengakibatkan jatuhnya korban di Israel 160 orang dalam sehari. Memukul muka Netanyahu yang baru selesai pidato dan klaim kosong. Trump ingin keluar karena kondisi di lapangan serius menyakitkan bagi AS dan semua sekutunya. AS dan negara arab dibuat tidak berdaya di timur tengah dihadapan Iran. Bisa dibayangkan, semua aset AS dan negara teluk Bebas diserang balistik Iran tanpa banyak perlawanan karena kebanyakan pertahanan AS disana sudah jebol di pekan pertama perang. Sedangkan kemampuan Iran bertahan sangat teruji, di tengah gempuran hebat AS dan Israel, Iran terus mampu memukul Israel tanpa henti dengan Balistik dan Hipersonik yang terus meningkat. AS bukan hanya frustasi di timur tengah, AS juga frustasi dengan NATO yang sampai saat ini juga tidak mau membantu AS membuka Selat Hormuz. AS bahkan mengancam akan meninggalkan NATO karena mereka tidak mau membantu AS dalam perang Iran. AS dan Israel terbukti tidak mampu membuka Selat Hormuz sampai sekarang yang merupakan kemenangan telak bagi Iran. Dan kemungkinan Selat Hormuz ini akan terus tertutup sampai akhir perang. AS dan Israel tidak akan mampu menerobos pertahanan Iran di selat Hormuz. Semua kondisi ini saya ini menjelaskan posisi AS dan Israel yang dilema, tujuan yang tidak tercapai, kalah secara substansial, tidak mampu menang cepat apalagi menang strategis, dan mungkin nanti terpaksa meninggalkan Medan perang dengan kondisi Selat Hormuz yang tetap tertutup.