Sosok Vicky Katiandagho menjadi sorotan publik usai memutuskan mengundurkan diri dari institusi kepolisian. Keputusan tersebut diambil setelah dirinya dimutasi saat tengah menangani kasus korupsi yang disebut-sebut melibatkan pihak berpengaruh. Vicky sebelumnya dikenal sebagai perwira yang berani dan tegas dalam mengusut berbagai perkara besar. Namun, langkah kariernya di kepolisian berakhir secara tak biasa—bukan dengan promosi, melainkan mutasi yang kemudian berujung pada pengunduran diri. Ia pun resmi mengakhiri pengabdiannya di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan cara yang sederhana. Dalam sebuah video yang direkam di Polda Sulawesi Utara, Vicky terlihat berpamitan tanpa seremoni besar. Tak ada panggung megah ataupun acara formal. Ia hanya menyampaikan ucapan terima kasih secara tulus kepada sejumlah satuan kerja yang pernah menjadi bagian dari perjalanannya. Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika Vicky bersujud. Gestur tersebut dinilai bukan sekadar simbol perpisahan, melainkan bentuk pelepasan dari beban, kenangan, serta perjalanan panjang yang telah ia jalani selama mengenakan seragam cokelat. Dalam pernyataannya, ia juga menyampaikan kalimat yang kini banyak dikutip publik: “Kapapun baju coklat ini bisa tanggal, tetapi jiwa, sekali Bhayangkara selamanya Bhayangkara.” Pernyataan itu mencerminkan komitmennya terhadap nilai-nilai pengabdian, meski dirinya tak lagi menjadi bagian aktif dari institusi. Ia juga menyinggung bahwa tidak semua pengabdian berakhir dengan penghargaan. “Pengabdian tidak selalu berakhir dengan tepuk tangan. Kadang ditutup dengan diam dan langkah pergi yang berat,” menjadi pesan yang tersirat dalam perpisahannya. Keputusan Vicky untuk mundur disebut bukan semata soal mutasi atau dinamika internal, melainkan pilihan pribadi yang diambil setelah melalui proses panjang dan pertimbangan mendalam.
