Gadis asal pinggiran Kota Kupang, NTT ini membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal kasta. Ia berhasil diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) melalui jalur prestasi (SNBP)

Tags

Kisah Margaret menjadi salah satu cerita paling menyentuh hati di tahun 2025. Gadis asal pinggiran Kota Kupang, NTT ini membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal kasta. Ia berhasil diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) melalui jalur prestasi (SNBP)

Di balik keberhasilannya, ada perjuangan luar biasa yang jarang diketahui orang: Kondisi Keluarga: Margaret tinggal di sebuah rumah kayu yang sangat sederhana. Ayahnya bekerja keras sebagai kuli bangunan, sementara kakaknya harus membanting tulang siang dan malam hingga jam 2 pagi demi mencukupi kebutuhan keluarga. Dihina dan Diremehkan: Bukannya mendapat dukungan, Margaret justru sering dicibir oleh tetangga bahkan gurunya sendiri. Ia sering mendengar kalimat menyakitkan seperti, "Sudah miskin kok mimpinya mau kuliah jauh." Trauma Masa Lalu: Ia sempat merasa sangat rendah diri karena pernah disinggung soal tunggakan uang sekolah di depan orang banyak. Hal ini membuatnya sempat ragu untuk mengejar cita-citanya. Karena tekanan dari sekelilingnya, Margaret mendaftar ke UI secara diam-diam. Ia baru memberanikan diri mengisi formulir tepat dua hari sebelum penutupan pada pukul 02.00 dini hari. Keluarganya baru mengetahui hal ini setelah pengumuman keluar dan Margaret dinyatakan lulus. Kisah hebat ini menarik perhatian Dr. Sudibyo, seorang dosen legendaris di UI, dan Imam Santoso (influencer pendidikan). Mereka langsung terbang ke Kupang untuk menemui Margaret secara langsung. Dunia maya sempat heboh saat melihat video Dr. Sudibyo menangis terharu di dalam rumah kayu Margaret karena tidak menyangka ada perjuangan sehebat itu. Kini, Margaret tidak lagi berjuang sendirian. Ia telah mendapatkan beasiswa penuh, bantuan laptop, dan dana pendidikan dari berbagai pihak, termasuk dukungan dari Paragon Corp. Kisah Margaret adalah pengingat bagi kita semua: keterbatasan ekonomi dan komentar negatif orang lain tidak akan pernah bisa menghentikan langkah seseorang yang memiliki tekad sekuat baja.